Menjadi guru yang kreatif dan inovatif tidaklah sulit. Itu semua bisa dilakukan semua guru mata pelajaran apa pun. Dan yang tak kalah penting adalah dukungan dari pihak sekolah, khususnya kepala sekolah. Seperti yang dilakukan SMKN 1 Bulakamba, yang banyak melahirkan guru-buru kreatif dan inovatif.
Kepala SMKN 1 Bulakamba Drs Samsudin pun mendukung penuh apa yang menjadi ide kreatif dewan gurunya tersebut. Dia tidak segan-segan mengirimkan guru-gurunya yang punta potensi dan bakat untuk mengikuti sejumlah lomba dan ajang kreativitas. Seperti dalam Lomba Penelitian Tekonologi Tempat Guna bagi Guru SMK tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar pada 18-26 Mei lalu.
“Dari tiga bidang yang diikuti, semuanya meraih juara. Bahkan dua guru kita meraih juara 1, satunya juara harapan,” kata Samsudin bangga.
Ketiga guru yang dikirim mengikuti lomba itu adalah Wiji Asmoro SPd, yang meraih juara 1 bidang Rekayasa Elektronika Mata Lomba Audio Video. Kemudian Ir Hardi Suyono, yang meraih juara 1 bidang Agri dan Agro Mata Lomba Agribisis Produksi Tanaman. Serta Andi Kurniawan, yang meraih juara harapan 2 bidang Teknik Otomotif.
Kreativitas yang dibuat guru-guru teknik ini sangat inovatif dan layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Karena selain tepat guna, juga harganya sangat murah jika dijual kepada masyarakat. Seperti yang dibuat Wiji Asmoro, yang berhasil menciptakan alat pembuat kumparan untuk pompa air dan kipas angin semiotomatis.
“Saat ini sudah banyak yang pesan, kebanyakan para pemilik bengkel elektronika. Harganya sekitar Rp 250 ribu saja,” kata Wiji yang mengampu mata pelajaran Teknik Elektronika Audio Video.
Alat yang diciptakannya itu, kata Wiji, memiliki dua keunggulan. Yakni ada tampilan digital untuk menghitung jumlah kumparan yang dibuat. Alat penghitung itu menggunakan kalkulator yang dihubungkan dengan alat ciptaannya. “Kemudian untuk menggulung kumparannya menggunakan dinamo. “Dua keistimewaan itu yang mungkin membuat saya jadi juara,” katanya sambil tersenyum bangga.
Sebelumnya, Wiji juga mengikuti lomba yang serupa pada 2008 lalu. Saat itu yang diciptakan adalah alat pengusir tikus tenaga surya untuk sawah dan ladang tebu. Selain itu, dia juga bakal mengikuti ajang Krenova yang diadakan Bappeda Brebes pada 7 Juni mendatang dengan menciptakan alat pengolah air sumur menjadi air minum.
“Semuanya berkat dukungan kepala sekolah, yang terus memotivasi kita semua untuk berkreasi,” tukasnya.
Sementara Hardi Suyono, yang merupakan guru mapel Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura (ATPH) berhasil menciptakan alat pemipil jagung dengan tenaga listrik. Alat yang diciptakannya itu berdasarkan pengamatan para petani jagung saat memipil hasil panennya tersebut. Di mana dengan cara manual, untuk memipil jagung membutuhkan waktu yang lama. Meskipun sudah ada alat yang sederhana, namun dengan alat ciptaannya yang bertenaga listrik tersebut, akan mampu membantu tugas para petani.
“Untuk satu tongkol jagung kering, tidak butuh waktu lama untuk memipilnya, hanya sekitar 15 detik saja. Dan alatnya bisa diganti-ganti, tergantung besar kecilnya tongkol jagung,” jelasnya kepada Radar sambil mempraktikkan alat temuannya di laboratorium sekolahnya.
Dengan waktu yang sedemikian cepat tersebut, dalam satu jamnya petani bisa memipil jagung keringnya 40 sampai 60 kg. Sementara jika dilakukan secara manual, maksimal hanya 12-15 kg saja perjamnya. “Jadi alat ini sangat membantu para petani dalam bekerja.
Namun untuk harganya jika dijual ke pasarannya masih di atas Rp 1 juta. Itu berdasrkan komponen dan bahan-bahan yang dibuatnya. Berdasarkan perhitungan dia, jika dijual ke masyarakat harganya mencapai Rp 1,25 juta, dengan catatan harga-harga dasarnya tidak mengalami kenaikan,” tandasnya.
Menurutnya, alat ini sangat cocok dikembangkan, khususnya di Kabupaten Brebes yang juga salah satu penghasil jagung yang cukup besar. Sehingga teknologi yang diciptakannya itu sangat tepat guna dan cocok. Karena dengan berat kurang lebih 30 kg, alat itu bisa dibawa dengan mudah, misalnya untuk satu kelompok tani bergantian memakainya.
“Alat ini akan kita kembangkan, supaya lebih efisien dan lebih ringan, termasuk untuk menambah blower, agar kotoran jagungnya bisa langsung dihilangkan,”tandasnya.
Apa yang dihasilkan guru-guru SMKN 1 Bulakamba ini bisa menjadi contoh dan motivasi bagi guru-guru yang lain, bukan hanya untuk guru SMK saja, tapi juga guru-guru lain di mata pelajaran yang berbeda. Selain bermanfaat bagi diri sendiri, juga bermanfaat bagi masyarakat lainnya. (m riza pahlevi)
Komentar Anda