Senin, 24 November 2014  Pukul : 14:51 wib
..:: Website ini disajikan sebagai pusat informasi tentang SMK Negeri 1 Bulakamba ::..

Hari Pahlawan, Peran Pemuda antara Sejarah dan Realita

“Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan padamu, Tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk negaramu”

Hari pahlawan merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari diorama perjuangan bangsa yang diawali dengan sumpah pemuda (28 Oktober), Kebangkitan nasional (20 Mei), sampai puncaknya kemerdekaan (17 agustus). Kita harus mampu memahaminya dalam satu tarikan nafas.

Peringatan peristiwa sejarah dimaksudkan untuk memperbarui semangat kebangsaan kita sebagai warga negara. Peristiwa-peristiwa tersebut memiliki makna yang sangat dalam tentang semangat perjuangan yang dilakukan para pejuang tempo dulu dalam menghadapi dan menghalau para penjajah Belanda dari bumi nusantara.


Semangat heroik para pahlawan itu menjadi patokan nilai bagi generasi sekarang dan masa mendatang dalam mengisi kemerdekaan. Perjuangan melepaskan diri dari belenggu penjajahan merupakan perjuangan yang sangat berat, namun perjuangan mengisi kemerdekaan lebih berat lagi. Tantangan yang dihadapi generasi saat ini lebih kompleks dengan musuh yang tidak lagi kasat mata seperti penjajah pada masa kemerdekaan dulu. Sekarang kita dituntut mampu melepaskan diri dari penjajahan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.

Hari pahlawan menjadi momen tepat untuk memperkuat kembali jiwa kerelaan berjuang dan berkorban demi kepentingan bangsa. Semangat berkorban ini bagi generasi yang lahir paska kemerdekaan dan tidak merasakan perjuangan fisik telah mulai terkikis. Jiwa berkorban yang dulu begitu besar dimiliki para pejuang sekarang hilang diganti oleh jiwa rakus, aji mumpung, dan mental korup.

Dengan hilangnya jiwa berkorban ini tidak heran jiwa nasionalisme dan patriotisme juga hilang. Jabatan publik tidak lagi dianggap amanah dan medan memperjuangkan kepentingan bangsa. Ia justru dianggap ladang pribadi yang harus dikeruk manfaatnya untuk kepentingan pribadi atau golongan. Dari sini muncul jiwa-jiwa yang hobi menyelewengkan dana negara dan akhirnya menciptakan citra Indonesia sebagai negara terkorup sedunia.

Generasi ini adalah generasi usia produktif. Mereka lebih sering terbawa arus zaman edan sebagaimana diungkapkan Aloys B. Purnomo. Jiwa-jiwa positif berubah menjadi jiwa-jiwa kerdil. Kedisiplinan dan sikap berkorban diganti dengan sikap mau menang sendiri, terserah orang lain mau sengsara yang penting dirinya bahagia.

10 November 1945, merupakan peristiwa yang lazim dikenal sebagai latar belakang adanya hari pahlawan. Yang mana merupakan peristiwa sejarah yang terjadi di Surabaya yaitu perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda pasca proklamasi (baca kemerdekaan Indonesia).

Peristiwa berdarah di Surabaya pada waktu itu telah menggerakkan perlawanan rakyat seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang hingga napas yang terakhir hanya karena Indonesia. Sehingga banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.

Kini, peringatan hari pahlawan seperti suatu ceremonial rutin yang diperingati oleh bangsa Indonesia, tanpa adanya penghayatan makna perjuangan para pendahulu oleh bangsa sekarang. Makna atas perjuangan para pendahulu tanpa diikuti dengan langkah konkret bangsa Indonesia untuk tetap dan terus berjuang bagi Indonesia. Sehingga seolah-olah semangat kenegaraan bangsa Indonesia semakin pudar, semangat bela negara kian redup, hanya tinggal pragmatis dan egois yang ada di dalam jiwa para negarawan dan bangsa Indonesia.

Hal ini diperlukan suatu pengkajian ulang atas nilai-nilai kepahlawanan dan nilai-nilai kenegaraan para pendahulu yang hampir ditinggalkan oleh penerus bangsa. Betapa sulitnya para pendahulu berupaya mempertahankan Indonesia, mereka bersatu dalam wadah melawan penjajah, yang semua itu demi kita sebagai penerus bangsa.

Perjuangan masa kini tidaklah semata-mata dilakukan dengan melawan penjajah lagi, karena di Indonesia sudah tidak ada penjajah, namun perjuangan di sini diaplikasikan dengan bentuk mengisi kemerdekaan guna menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri, tanpa bergantung sepenuhnya kepada negara lain. Pembangunan diartikan dalam bentuk pembangunan sumber daya manusia disertai moral yang berkualitas, guna menjadikan rakyat Indonesia bisa bersainng di era global,  sistem kenegaraan diselenggarakan dengan bersih (good governance) tanpa adanya sentuhan korupsi yang dapat meredupkan semangat kepahlawanan.

Karakteristik Penerus Bangsa di Masa Kini

Pasca reformasi telah merubah sendi-sendi kehidupan di Indonesia. Betapa anehnya, gaya hidup masyarakat pasca reformasi semakin meninggalkan nilai-nilai kenegaraan dan semangat kepahlawanan.

Pasca reformasi, Kata korupsi dan mafia peradilan malah hampir selalu menghiasi media cetak dan elektronik, sehingga dalam era ini Indonesia justru semakin masuk ke dalam jeratan krisis nilai kepahlawanan. Tren para pemimpin bangsa di era sekarang ini menjadi penguasa yang hampir lupa dengan perjuangan para pendahulu, yang seharusnya melanjutkan nilai perjuangan bangsa, namun mereka justru menjadi pihak yang aktif dalam upaya peredupan nilai-nilai tersebut sehingga mereka turut serta sebagai subyek dalam lingkaran setan seperti korupsi.

Reaksi dari para pemuda dan mahasiswa Indonesia pun masih terpaku pada paradigma kuno yang tidak futuristik, setiap peringatan hari pahlawan kebanyakan dari mereka melakukan seremonial rutin dengan berjalan sepanjang jalan dengan melakukan demonstrasi, namun upaya mereka untuk mengisi kemerdekaan yang berwujud karya dan prestasi sungguh sangat minim. Mereka kebanyakan bersuara namun kurang berisi, mereka rajin bersuara dengan mengkritik pemerintah dan negara, namun sangat jarang diantara mereka tidak pernah memvisualisasikan keberfungsian dirinya yang nanti sebagai penerus bangsa.

Di samping itu, kesenjangan semakin meluas, para penerus bangsa sudah mulai meninggalkan orientasi perjuangan menjadi orientasi materialistis, segala sesuatu dinilai dari berapa nilai uang yang saya dapatkan, sehingga pemimpin yang tidak berkompeten dalam kepemimpinan terpaksa dan dipaksa untuk memimpin negara yang diberi amanah berbenah negara paca reformasi. Namun apa daya ini, karena Indonesia dipimpin oleh para pemimpin negara yang kurang selektif dan berkompeten dengan dalih demokrasi semata tanpa moralitas, maka hal ini  justru melahirkan ketidakstabilan kondisi negara yang selalu dipaksa dalam upaya reformasi kenegaraan.

Fenomena terbaru sepuluh tahun pasca reformasi pun tetap mengindikasikan miskinnya dedikasi dam moralitas dari para penerus bangsa ini. Berbagai masalah krusial pun tetap tidak bisa diatasi dengan cepat. Berpegang pada adegium salus poluli suprema lex yaitu keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi, maka sudah seharusnya para penegak hukum di Indonesia untuk meninggalkan semangat kepragmatisan dengan menganggap dirinya paling benar dan tidak mau untuk disalahkan. Esensi para penegak hukum di Indonesia adalah suatu amanah yang diberikan rakyat dalam upaya penyelenggaraan negara, sehingga segala kebijakan harus berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan rakyat. KPK yang ketika mengibarkan sayapnya dengan mengusut kasus Bank Century tiba-tiba terjadi suatu chaos dengan pihak yang notabene adalah mitranya yang seharusnya bersinergi dalam upaya pemberantasan korupsi, guna menyelamatkan hak rakyat atas raibnya aset negara yang dimiliki oleh pihak yang tidak bertaggung jawab yaitu para koruptor.

Seperti ini kah kriteria pahlawan masa kini? Sungguh fenomena yang sangat berbeda antara 64 tahun silam dengan realitas kekinian. Sehingga hal yang menjadi pertimbangan utama yang seharusnya dimiliki oleh para penegak hukum dan para penyelenggara negara adalah integritas, moralitas, dan penghayatan nilai-nilai kepahlawanan sebagai parameter awal dari seorang negarawan. Mengingat kriteria seperti ini sungguh sangat langka dimiliki oleh para negarawan masa kini.

Hal ini merupakan suatu kegagalan penerus bangsa dalam menjalankan titipan para pendahulu pasca reformasi, namun bukanlah kegagalan total dari reformasi dalam mengemban semangat kepahlawanan, karena hal ini layak menjadi pelajaran bermakna bagi penerus bangsa atau generasi berikutnya yaitu betapa rendahnya moralitas pemimpin kekinian, sehingga pelajaran ini akan selalu menjadi suatu rambu sekaligus rem agar pemimpin di masa datang tidak terjerat sebagai subjek yang aktif dalam pelecehan hak rakyat yang merupakan esensi upaya peredupan semangat kepahlawanan ini.

Hakikat Penerus Bangsa Sebagai Pahlawan di Masa Kini

Dalam realitas zaman kekinian, sulit untuk menyatakan bahwa pahlawan masa kini adalah pihak yang memperjuangkan negara terutama oleh pihak  angkatan bersenjata, mengingat semua para penegak hukum dan angkatan bersenjata selalu digaji dengan uang rakyat. Mereka bekerja mengamankan negara karena berbanding lurus dengan faktor materialistis, namun faktor penting yang mengancam eksistensi negara tidaklah hanya melalui pengamanan bersenjata, melainkan faktor-faktor yang berwujud guna keselamatan rakyat, dan mensejahterakan rakyat sebagaimana tertuang di dalam pembukaan UUD 1945 sebagai staatsidee Negara Indonesia.

Dalam masa kekinian, bangsa Indonesia seolah telah kehilangan pusaka yang merupakan falsafah dasar yang mempengaruhi dan mendasari sendi-sendi kehidupan berbangsa dan kenegaraan. Seolah Indonesia telah kehilangan apa yang dinamakan oleh Bung Karno sebagai Weltanschaung, yaitu Pancasila sebagai fundamen, filsafat, pikiran, jiwa, dan hasrat yang menyatu dalam kemerdekaan dan upaya mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tanpa semangat bernegara seperti ini, sulit untuk melahirkan pahlawan-pahlawan baru atau setidaknya negarawan berjiwa pahlawan, yang berjiwa leader dan berdedikasi tinggi dalam mengemban perjuangan kenegaraan. Semangat kepahlawanan selayaknya selalu diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan  kenegaraan dengan tetap menjunjung nilai kebersamaan dan persatuan.

Sehingga seseorang yang mempunyai keteguhan jiwa/hati, berdedikasi tinggi, dan bernurani luhur dalam upaya memperjuangkan keadilan, menyarakan aspirasi rakyat, dan selalu berusaha turut serta dalam upaya memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan itulah sebenarnya esensi pahlawan masa kini. Semoga kriteria seperti ini tetap dipunyai oleh setiap pemimpin negara masa kini guna mengaktualisasi semangat kepahlawanan untuk berjuang mengisi kemerdekaan dalam pemerintahan negara, mewujudkan Indonesia bebas dari korupsi, dan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Bagaimana seharusnya Pemuda sebagai Generasi Penerus dalam menyikapi Hari Pahlawan.

Timbul pertanyaan, apakah peringatan Hari Pahlawan masih ada artinya, pada saat sekarang ini di masa glaobalisasi ?

Dahulu para pahlawan dalam merebut kemerdekaan, rela berkoban harta dan nyawa. Secara patriotik mereka menghunuskan senjata, walaupun hanya memakai bambu runcing. Bahkan para penegak kemerdekaan rela bergelirya di tengah hutan menahan lapar dan tidur beralaskan semak belukar serta beratapkan langit.

Kemudian sudahkah generasi ini mengormati pahlawan dan memiliki semangat juang dalam mengisi kemerdekaan, sesuia harapan mereka yakni menanamkan nilai-nilai luhur yang berbudi pekerti dan berprestasi ? Diketahui bahwa di era melenium ini arus globalisasi kian kuat menghantam segala bidang kehidupan. Tidak terkecuali kaula remajanya.

Akibat globalisasi tersebut yang sangat dirasakan saat ini adalah mulai bergesernya nilai-nilai budaya, prilaku dan pudarnya semangat mengejar prestasi. Yang sangat jelas terlihat adalah perubahan gaya hidup yang meniru Western.

Namun tidak semuanya anak bangsa di negeri ini memiliki sikap dan prilaku yang kebarat-baratan seperti itu, seolah telah melupakan akar sejarah perjuangan pahlawan kemerdekaan.
Sebut saja Adi siswa SMAN 10 Pekanbaru, ia mengaku sangat menghargai perjuangan pahlawan bangsa yang kini sebagai kesuma bangsa. Meski ia tidak berjuang lagi memanggul senjata, namun kemerdekaan ini ia isi denagn belajar yang sungguh-sungguh.

Kemudian ada lagi Desy mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (Umri). Belajar mengejar cita-cita adalah bagian dari menghormati dan mengisi kemerdekaan. Jerih payah pahlawan tidak sebanding dengan apa yang kini ia lakukan. Meski begitu belajar adalah pekerjaan utama baginya.

Yang terbaru adalah para relawan yang dengan setulus hati membantu korban bencana alam di Merapi Jawa Tengah. Mereka rela mengorbankan jiwa raga demi keselamatan para korban bencana tersebut.

Selanjutnya arti kepahlawanan tidak hanya seperti pahlawan yang merebut kemerdekaan. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya.

Kepahlawanan tidak hanya lahir dari kancah pertempuran, tetapi dapat juga lahir di kesunyian ruang laboratorium, dari lingkungan pabrik-pabrik yang pengap karena polusi, serta pengabdian seorang guru di daerah terpencil. Ukuran kepahlawanan bisa saja berubah sejalan dengan penyikapan masyarakat terhadap nilai kepahlawanan, namun nilai harafiahnya tetap dipertahankan.
Setiap hari anak bangsa mesti berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Kata pahlawan memang pantas kita sematkan pada dada sosok-sosok mulia yang dikenal sebagai ‘’pahlawan tanpa tanda jasa’’ yakni guru. Mereka memang benar-benar tanpa tanda jasa. Begitu juga bagi mereka yang berprestasi baik dalam bidang olahraga, bermacam disiplin ilmu, dalam pelestarian alam dan mereka sebagai penyelengara negara ini, mereka yang telah bekerja keras demi kebutuhan sandang dan pangan, mereka yang menjaga keamanan bahkan mereka para TKW dan TKI, juga layak menyandang gelar pahlawan devisa.

Di saat para pemuda yang nasionalismenya mulai terkikis dengan berbagai pengaruh, masih terdapat beberapa pemuda yang terus mengingat para pahlawan dengan mendongkrak semangat nasionalisme melalui puisi-puisi yang dibacakan dan beberapa lagu nasional yang didentangkan pada acara tersebut.

Melihat acara tersebut mengingatkan kita kepada Sumpah Pemuda yang diperingati beberapa hari sebelum hari pahlawan tepatnya pada tanggal 28 Oktober. Dimana sumpah pemuda berawal dari beberapa pemuda yang mendambakan persatuan bangsa ini. Dimana bangsa ini memliki kekayaan yang melimpah ruah. Emas, intan dan mutiara ada di Indonesia. Bangsa ini juga kaya akan budaya yang selama ini jarang diperhatikan para pemuda zaman sekarang yang sudah banyak menyerap budaya asing .

Sangat berbeda pada zaman itu, ketika para pemuda terkungkung dalam siksaan penjajahan bangsa asing mereka tetap menjujung tinggi budaya bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya yang mungkin menjadi Negara yang memiliki kebudayaan yang beraneka ragam.

Semangat para pemuda pada zaman itu dapat menjadi pemicu buat kita untuk dapat berkontribusi bagi diri sendiri, lingkungan sekitar, bangsa Indonesia bahkan bagi dunia yang sangat kita cintai ini.

Bersatulah para pemuda……

Mengisi kemerdekaan ini memajukan Bangsa…..

Jayalah Indonesiaku…….

( diambil dari berbagai sumber )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Sebagai subsistem pendidikan nasional, tanggung jawab terbesar yang diemban SMK NEGERI 1 Bulakamba adalah membangun bangsa melalui Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Karena itu SMK Negeri 1 Bulakamba harus selalu berada pada posisi terdepan dalam setiap upaya pembaharuan pendidikan khususnya dalam bidang Pendidikan Teknologi dan Kejuruan.
Menyadari posisi tersebut lembaga ini telah berketetapan hati untuk menjadi Lembaga diklat kejuruan yang berstandar internasional. Untuk mewujudkan semua itu SMK Negeri 1 Bulakamba dalam segala aspek harus berstandar pada standar dan mindset yang berlaku secara internasional.
Sebagai langkah awal untuk menjadi lembaga bertaraf internasional, SMK Negeri 1 Bulakamba selalu berupaya mengembangkan dan menerapkan sistem manajemen mutu (quality management system) sesuai standar ISO 9001 : 2008
SMK Negeri 1 Bulakamba, Displin, Unggul, Terampil dan Amanah untuk mewujudkan mutu organisasi yang Akuntabel, Partisipatif, Inovatif dan Kreatif

Komentar Anda

Arsip

Kategori