Selamat Idul Fitri 1431 H

Idul Fitri sebagai rangkaian puncak ibadah Ramadhan tiba menyapa kita. Idul Fitri adalah mengembalikan seluruh hati, fikroh, dan jasad kita pada fitrah kemanusiaan setelah melalui masa pelatihan selama bulan Ramadhan.
Oleh sebab itu, mereka yang melalui ibadah Ramadhannya penuh dengan keimanan dan keikhlasan, berhak meraih kemenangan. Dan inilah hakekat kemenangan sejati.
Lantaran itu, ucapan dan doa yang baik layak dialamatkan bagi hamba-hamba Allah SWT yang lulus seleksi dengan kategori yang telah Allah tetapkan. “Semoga Allah SWT menerima amal ibadah engkau dan aku. Dan Semoga Allah SWT membahagiakan kita sepanjang masa.”
Ucapan saling mendoakan dan membahagiakan kepada sesama muslim memberi warna dan warisan baru bagi dunia. Ramadhan sebagai bulan pelatihan yang penuh berkah dan ampunan, telah meluluskan hamba-hambanya yang ikhlas.
Ramadhan mengubah paradigma di benak banyak orang, bahwa sesungguhnya dunia ruh yang penuh elanvital dan dinamika tidak mati. Kebangkitan ruh baru menjadi pengimbang bagi dominasi nafsu yang hampir 11 bulan mendominasi dunia manusia.
Memahami Makna Minal ‘Aidin Wal Faizin’
“Minal ‘aidin wal faizin”, demikian harapan doa yang kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai tolan pada Idul Fitri. Yang dimaksud ucapan ini dari segi bahasa yaitu
selengkapnya »
Elegi Merah Putih di Atap Rumahku
Empat belas Agustus, dua puluh delapan tahun yang lalu. Usiaku masih sembilan tahun. Aku masih ingat, tatkala itu, aku masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Tapi prahara bendera mungil yang sempat berkibar sebentar di atap rumahku itu seperti terjadi kemarin sore. Kibar bendera mungil yang kujahit dengan susah payah ketika aku kecil itu masih terpatri kuat dalam ingatanku. Aku sedih menatap bendera kecil itu tidak lagi berkibar di atas rumah, setelah ayah ditikam amarah.
Siang itu cakrawala kulihat berwarna kelabu, serupa warna sendu relung hatiku. Aku pulang dari sekolah dengan langkah lunglai, memakai sepatu dengan tali yang kusut dan berdebu. Aku terus melangkah, dahaga menggaruk tenggorakanku. Gang sempit ke arah rumahku lengang, dan aku ingin cepat sampai ke rumah. Tapi aku seperti digelayuti lelah untuk berlari.
Tidak tampak anak-anak kecil berseragam sekolah merah putih bermain di gang sempit itu, kecuali aku seorang diri –yang sedang berjalan pulang dengan galau. Tetapi, entah mengapa, siang itu kelengangan gang ke rumahku seperti berbeda. Angin berisik seperti mengabarkan kemerdekaan yang pernah diukir para pejuang di zaman dulu. Aku merasakan hembusan ruh pahlawan menelusup di sela-sela dedaunan tanaman di depan rumah tetangga-tetanggaku yang tampak sahdu.
selengkapnya »
Puasa (Bag. 2)
d. Wa ‘alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha’amu miskin (Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin) (QS Al-Baqarah [2]: 184).
Penggalan ayat ini diperselisihkan maknanya oleh banyak ulama tafsir. Ada yang berpendapat bahwa pada mulanya Allah Swt. memberi alternatif bagi orang yang wajib puasa, yakni berpuasa atau berbuka dengan membayar fidyah. Ada juga yang e~pendapat bahwa ayat ini berbicara tentang para musafir dan orang sakit, yakni bagi kedua kelompok ini terdapat dua kemungkinan: musafir dan orang yang merasa berat untuk berpuasa, maka ketika itu dia harus berbuka; dan ada juga di antara mereka, yang pada hakikatnya mampu berpuasa, tetapi enggan karena kurang sehat dan atau dalam perjalanan, maka bagi mereka diperbolehkan untuk berbuka dengan syarat membayar fidyah.
Pendapat-pendapat di atas tidak populer di kalangan mayoritas ulama. Mayoritas memahami penggalan ini berbicara tentang orang-orang tua atau orang yang mempunyai pekerjaan yang sangat berat, sehingga puasa sangat memberatkannya, sedang ia tidak mempunyai sumber rezeki lain kecuali pekerjaan itu. Maka dalam kondisi semacam ini. mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat membayar fidyah. Demikian juga halnya terhadap orang yang sakit sehingga tidak dapat berpuasa, dan diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya. Termasuk juga dalam pesan penggalan ayat di atas adalah wanita-wanita hamil dan atau menyusui. Dalam hal ini terdapat rincian sebagai berikut:
selengkapnya »
Puasa (Bag. 1)
MARHABAN YA RAMADHAN
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus ersebut diartikan “selamat datang.”
Walaupun keduanya berarti “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.
Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkaLkar1 kaki di) dataran rendah yang mudah.”
Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.” Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.
selengkapnya »
ARTI SEBUAH KEMERDEKAAN AKSES INFORMASI
Bagi bangsa Indonesia tiap-tiap tanggal 17 Agustus merupakan hari yang sakral dan perlu dihormati secara khidmat dan penuh sukacita. Tanggal itu sebagai penanda bahwa Indonesia sudah merdeka dan lepas dari belenggu penjajah. Biasanya perayaan di sana-sini diisi dengan perayaan dalam upaya perenungan diri. Begitu meluap-luap kegembiraan rakyat menyambut kemerdekaan ini adalah sesuatu yang wajar. Apalagi diketahui kemerdekaan yang diperoleh tidaklah mudah dan penuh pengorbanan. Tercatat dalam sejarah sudah banyak ‘cucuran’ darah dan air mata yang disumbangkan untuk merebut bumi pertiwi ini.
Pada peringatan hari kemerdekaan ke-65 ini, kita akan lebih berbicara aspek kemerdekaan dalam konteks demokratisasi informasi. Sedikit orang mengetahui pada masa-masa merdeka ini, apakah mereka sudah mendapatkan hak dan kesetaraan akan kebutuhan informasi? Renungan inilah yang sebenarnya perlu disoroti dalam memaknai arti hari kemerdekaan bagi kita semua sebagai bangsa Indonesia.
Jiwa, semangat dan keinginan untuk merdeka hendaknya tidak luntur begitu saja bagi kita bangsa Indonesia. Bila banyak orang beranggapan penjajah sudah pergi dari bumi pertiwi sejak tahun 1945, itu adalah kesalahan besar. Pada dasarnya penjajah itu datang silih berganti dengan segala bentuk dan rupa. Mulai dari sikap konsumerisme, narkoba, kriminalitas, kemiskinan, putus sekolah dan lain-lain. Jadi dapat dikatakan bahwa terpaan praktek-praktek penjajahan itu adalah musuh yang nyata bagi pembangunan dan perkembangan bangsa Indonesia.
Salah satu yang sedang mencuat adalah masalah globalisasi informasi yang ditandai dengan perkembangan dunia teknologi informasi. Seperti kita sudah ketahui bahwa muncul lagi satu ruang baru yang biasa disebut orang dengan dunia maya atau digital. Dengan adanya temuan baru berkonsep bilangan biner ini yang membuat orang mampu melakukan konvergensi dengan berbagai media. Alhasil manusia dapat dengan mudah mencari apa saja yang mereka butuhkan. Bermula dari pemikiran orang perorang yang sifatnya pribadi yang dikenal dengan pengetahuan, berubah menjadi informasi yang diakui kesahihan dan kehandalannya di masyarakat. Kumpulan informasi tersebut kemudian disimpan dalam layaknya file-file komputer yang dikenal dengan data (Straubhaar, 2004).
selengkapnya »
